“Barangsiapa menyeru kepada hidayah (petunjuk) maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”

Minggu, 21 Oktober 2012

Tafsir Surat Al-Fatihah


Tafsit tahlili
Al qur’an surat al fatihah 1-7*
Oleh; nehrun

1.  Teks ayat:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١)الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣)مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤)إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥)اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)

1.      Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
2.      Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
3.      Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4.      Yang menguasai di hari Pembalasan.
5.      Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
6.      Tunjukilah Kami jalan yang lurus,
7.      (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

2.      Arti Kata Kata (Mufrodat Al Ayat )
·        { الحمد } الثناء بالجميل على جهة التعظيم
·        { اللَّهِ } اسم علم للذات المقدسة لا يشاركه فيه غيره ،
·        { رَبِّ } الربّ : مشتق من التربية وهي إصلاح شئون الغير ورعاية أمره
·        { العالمين } العالم : اسم جنس لا واحد له من لفظه كالرهط ، وهو يشمل : الإنس والجن والملائكة والشياطين.
·        { الدين } الجزاء ومنه الحديث ( كما تدين تُدان ) أي كما تفعل تُجزى
·         { نَعْبُدُ } قال الزمخشري : العبادة أقصى غاية الخضوع والتذلل ولذلك لم تستعمل إلا في الخضوع لله تعالى لأنه مولي أعظم النعم فكان حقيقاً بأقصى الخضوع
·        { الصراط } الطريق
·         { المستقيم } الذي لا عوج فيه ولا انحراف
·        { آمين } أي استجب دعاءنا وهي ليست من القرآن الكريم إجماعاً .

3.     Sebab Turun (Sabab An Nuzul)
Dalam hal ini, penulis tidak mendapatkan hadits shohih yang berhubungan dengan sebab turunnya surat al fatihah, akan tetapi ada beberap hadits yang disebutkan oleh syaikh Al waahidi an naisaburi dalam kitabnya Asbaabu An nuzuul.[1]  Diantaranya Sebagaimana diriwatkan oleh Ali bin Abi Tholib mantu Rosulullah Muhammad saw: “Surat al-Fatihah turun di Mekah dari perbendaharaan di bawah ‘arsy’”[2]
       Begitu juga dalam Riwayat lain menyatakan, Amr bin Shalih bertutur kepada kami:“Ayahku bertutur kepadaku, dari al-Kalbi, dari Abu Salih, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Nabi berdiri di Mekah, lalu beliau membaca, Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Kemudian orang-orang Quraisy mengatakan, “Semoga Allah menghancurkan mulutmu (atau kalimat senada).”[3]
Waktu Turunnya Surat al-Fatihah Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, bahwa surat al-Fatihah diturunkan di Mekah sebelum hijrah. Inilah yang dipegang oleh Ibnu ‘Abbas, Qatadah, dan Abul ‘Aliyah. Sebagian ulama lain, semacam Abu Hurairah, Mujahid, Atho’ bin Yasar, dan az-Zuhri, berpendapat bahwa al-Fatihah turun di Madinah. Ada pula yang berpendapat bahwa ia turun dua kali, sekali di Mekah dan sekali di Madinah. Namun, pendapat yang tepat adalah surat ini diturunkan di Mekah. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sungguh telah Kami berikan kepadamu tujuh ayat yang diulang-ulang.” (QS. Al-Hijr: 87). Karena surat al-Hijr ini turun di Mekah dengan kesepakatan para ulama. [4]
4.     Keutamaan Surat Al Fatihah
Surah al-Faatihah mempunyai beberapa keutamaan. Di antara keutamaannya adalah sebagai berikut.
a)     Surah yang Paling Agung di Dalam Al-Qur'an.
Dari Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Maukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung di dalam al-Qur’an, sebelum kamu keluar masjid?”. Lalu beliau menggandeng tanganku, ketika kami hendak keluar aku berkata, “Wahai Rasulullah! Tadi anda berkata: Aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam al-Qur’an?”. Beliau pun bersabda, “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (surat al-Fatihah), itulah tujuh ayat yang diulang-ulang (as-Sab’u al-Matsani) dan bacaan yang agung (al-Qur’an al-’Azhim) yang diberikan kepadaku.” [5]
b)     Surah yang Paling Utama di Dalam Al-Qur'an
An-Nasa'i dalam as-Sunan al-Kubra, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, "Pada suatu hari Rasulullah dalam perjalanan. Kemudian beliau berhenti dan turun dari tunggangan beliau. Lalu seseorang turun dari tunggangannya juga untuk mendampingi beliau. Kemudian beliau bersabda, “Maukah engkau saya beritahu surah apa yang paling utama di dalam Al-Qur'an?' Lalu beliau membaca, "Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam." [6]
c)      Rukun Sholat
Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sah sholat orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (surat al-Fatihah).” [7]
d)     Bacaan Untuk Meruqyah
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa suatu ketika sekelompok Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam perjalanan. Kemudian mereka melewati sebuah kabilah arab. Mereka meminta disambut seperti layaknya tamu, tetapi permintaan itu ditolak oleh kabilah tersebut. Namun, setelah itu mereka bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang pandai meruqyah? Karena pemimpin kabilah terkena sengatan binatang berbisa atau tertimpa musibah.” Salah seorang lelaki diantara rombongan pun berkata, “Iya.” Dia pun mendatanginya dan meruqyahnya dengan Fatihatul Kitab hingga sembuh. Setelah itu diberikanlah sejumlah kambing sebagai upah atasnya, tetapi orang itu enggan menerimanya. Dia mengatakan, “Tidak, sampai aku ceritakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu dia pun menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkan hal itu kepada beliau. Dia berkata, “Wahai Rasulullah! Demi Allah, aku tidak meruqyah kecuali dengan Fatihatul Kitab (surat al-Fatihah) saja.” Beliau pun tersenyum seraya bersabda, “Darimana kamu tahu bahwa ia adalah ruqyah?”. Kemudian beliau memerintahkan, “Ambillah pemberian mereka, dan sisihkan juga jatahku bersama kalian.” [8]
e)     Induk Ayat-Ayat al-Qur’an
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ummul Qur’an itu adalah tujuh ayat yang sering diulang-ulang (as-Sab’u al-Matsani) dan al-Qur’an al-’Azhim (bacaan yang agung”. [9]
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Ia juga disebut dengan Ummul Qur’an/Induk al-Qur’an; sebab induk dari sesuatu itu adalah pokok/sumber yang menjadi tempat kembali/rujukan sesuatu tersebut. Makna-makna ayat al-Qur’an semuanya kembali kepada apa yang terkandung di dalam surat ini.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 6 cet. Dar al-Imam Ahmad, lihat juga Fath al-Bari [8/181] cet. Dar al-Hadits).
Surah al-Faatihah disamping mengandung keutamaan yang banyak, juga mempunyai nama nama lain. Di antara nama lain dari surah al-Faatihah adalah sebagai berikut.
Ø al-Fatihah (pembuka); maksudnya adalah pembuka al-Kitab
Ø Ummul Kitab (induk al-Kitab)[10]
Ø Ummul Qur’an (induk al-Qur’an)
Ø al-Hamdu (pujian)
Ø ash-Sholah (pilar dalam sholat)
Ø ar-Ruqyah (bacaan untuk mengobati)
Ø Asas al-Qur’an
Ø al-Waqiyah (penjaga)
Ø al-Kafiyah (yang mencukupi) [11]

5.     Munasabatul Al Ayat
Para ahli tafsir sebagaimana yang dikemukan oleh Imam suyuthi melihat adanya keterkaitan antara nama-nama surah dengan isi atau uraian yang dimuat dalam suatu surah. Kaitan antara nama surah dengan isi surat al fatihah dapat kita indentifikasikan bahwa Nama diambil dari urgensi isi serta kedudukan surah. Nama surah al-fatihah disebut dengan umm al-kitab karena urgensinya dan disebut dengan al-Fatihah karena kedudukannya dan menempati pada awal surat dalam al qur’an.
Jika kita cermati lebih dalam, terdapat Hubungan yang erat antar surat al-Baqarah dengan surat al-Fatihah. Pada awal surat al-Baqarah tertulis “kitab al-Qur’an ini tidak ada keraguan di dalamnya. Pada surat al-Fatihah tercantum kalimat “tunjukilah kami jalan yang lurus,”ini berarti bahwa ketika mereka meminta “tunjukilah kami jalan yang lurus,” maka Allah menjawab: jalan lurus yang kalian minta ini adalah al-Qur’an yang tidak ada keraguan di dalamnya”.
6.     Gramatika (Wujuh Al I’rob)[12]
·        { بِسمِ الله الرحمن الرَّحِيمِ } الجار والمجرور في { بِسمِ الله } اختلف فيه النحويون على وجهين :
أ - مذهب البصريين : أنه في موضع رفع ، لأنه خبر مبتدأ محذوف ، وتقديره : ابتدائي بسم الله .
ب - مذهب الكوفيين : أنه في موضع نصب بفعل مقدّر وتقديره : ابتدأتُ بسم الله .
·        { الحمد للَّهِ رَبِّ العالمين } الحمدُ مبتدأ ولفظ الجلالة خبره تقديره : الحمد مستحق لله ،
·        { رَبِّ العالمين } صفة ، ومثله { الرحمن الرحيم } و { مالك يَوْمِ الدين } كلها صفات لاسم الجلالة .
·        { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }  إِيَّاكَ ; أنه ضمير منفصل منصوب بالفعل بعده وأصله ( نعبدك ) و ( نستعينك ) فلما قُدّم الضمير المتصل أصبح ضميراً منفصلاً ، والكاف للخطاب. 
·        { اهدنا } فعل دعاء وهو يتعدى إلى مفعولين المفعول الأول هو ضمير الجماعة ( ن ) في إهدنا ، و { الصراط } هو المفعول الثاني
·        { المستقيم } صفة للصراط ، و { صِرَاطَ } بدل من الصراط الأول .

7.     Arti Secara Global (Al Ma’na Al Ijmaly) Dan Penjelasan Ayat
Dalam surat al fatihah ini Allah mengajarkan dan sekaligus memerintahkan kepada hambanya untuk memuji, memuliakan dan mengagungkan Allah subhanahu wa Ta’al. melalui penyebutan Asma’ul husna milikNya yang sarat akan kandungan sifat sifat yang maha sempurna. Dengan demikianlah seorang hamba menyampaikan rasa syukurnya kepada pencipta alam semesta beserta isinya.
Dalam surat al fatihah juga mencakup penyebutan tempat kembalinya manusia, yaitu hari pembalasan. dan hanya Allahlah yang berkuasa pada hari pembalasan ini. (iman kepada Hari kiamat).
Selain itu, juga berisi bimbingan bagi para hamba agar mereka tidak menyembah dan beribadah melainkan hanya kepada Allah semata. Begitu pula dalam hal memohon perlindungan dan pertolongan.  Setelah hamba beribadah  kepada Allah, ayat selanjutnya berisi bimbingan agar hamba selalu memohon hidayah dan petunjuk kepada jalanNya yang lurus. Yaitu islam dan sunnah rosulullah. Serta tidak mengikuti jalan orang orang yang sesat dan dimurkai oleh Allah Ta’ala.
Penjelasan Kandungan ayat
v Makna bacaan Basmalah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
Maknanya; “Aku memulai bacaanku ini seraya meminta barokah dengan menyebut seluruh nama Allah.” Meminta barokah kepada Allah artinya meminta tambahan dan peningkatan amal kebaikan dan pahalanya. Barokah adalah milik Allah. Allah memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jadi barokah bukanlah milik manusia, yang bisa mereka berikan kepada siapa saja yang mereka kehendaki. [13]  
Allah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi dengan disertai rasa cinta, takut dan harap. Segala bentuk ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya. Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah dua nama Allah di antara sekian banyak Asma’ul Husna yang dimiliki-Nya. Maknanya adalah Allah memiliki kasih sayang yang begitu luas dan agung. Rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Akan tetapi Allah hanya melimpahkan rahmat-Nya yang sempurna kepada hamba-hamba yang bertakwa dan mengikuti ajaran para Nabi dan Rasul. Mereka inilah orang-orang yang akan mendapatkan rahmat yang mutlak yaitu rahmat yang akan mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi. Adapun orang yang tidak bertakwa dan tidak mengikuti ajaran Nabi maka dia akan terhalangi mendapatkan rahmat yang sempurna ini. [14]
v  Makna Ayat kedua
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِ
Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.”
Makna Alhamdu adalah pujian kepada Allah karena sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dan juga karena perbuatan-perbuatanNya yang tidak pernah lepas dari sifat memberikan karunia atau menegakkan keadilan. Perbuatan Allah senantiasa mengandung hikmah yang sempurna. Pujian yang diberikan oleh seorang hamba akan semakin bertambah sempurna apabila diiringi dengan rasa cinta dan ketundukkan dalam dirinya kepada Allah. Karena pujian semata yang tidak disertai dengan rasa cinta dan ketundukkan bukanlah pujian yang sempurna.
Makna dari kata Rabb adalah Murabbi (yang mentarbiyah; pembimbing dan pemelihara).[15] Allahlah Zat yang memelihara seluruh alam dengan berbagai macam bentuk tarbiyah. Allahlah yang menciptakan mereka, memberikan rezeki kepada mereka, memberikan nikmat kepada mereka, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah bentuk tarbiyah umum yang meliputi seluruh makhluk, yang baik maupun yang jahat. Adapun tarbiyah yang khusus hanya diberikan Allah kepada para Nabi dan pengikut-pengikut mereka. Di samping tarbiyah yang umum itu Allah juga memberikan kepada mereka tarbiyah yang khusus yaitu dengan membimbing keimanan mereka dan menyempurnakannya. Selain itu, Allah juga menolong mereka dengan menyingkirkan segala macam penghalang dan rintangan yang akan menjauhkan mereka dari kebaikan dan kebahagiaan mereka yang abadi. Allah memberikan kepada mereka berbagai kemudahan dan menjaga mereka dari hal-hal yang dibenci oleh syariat.
Dari sini kita mengetahui betapa besar kebutuhan alam semesta ini kepada Rabbul ‘alamiin karena hanya Dialah yang menguasai itu semua. Allah satu-satunya pengatur, pemberi hidayah dan Allah lah Yang Maha kaya. Oleh sebab itu semua makhluk yang ada di langit dan di bumi ini meminta kepada-Nya. Mereka semua meminta kepada-Nya, baik dengan ucapan lisannya maupun dengan ekspresi dirinya. Kepada-Nya lah mereka mengadu dan meminta tolong di saat-saat genting yang mereka alami. [16]
v  Makna Ayat ketiga
الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ
Artinya: “Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah nama Allah. Sebagaimana diyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang terindah. Allah ta’ala berfirman, “Milik Allah nama-nama yang terindah, maka berdo’alah kepada Allah dengan menyebutnya.” (QS. Al A’raaf: 180)
Setiap nama Allah mengandung sifat. Oleh sebab itu beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keimanan kepada Allah. Di dalam ayat ini Allah menamai diri-Nya dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Di dalamnya terkandung sifat Rahmah (kasih sayang). Akan tetapi kasih sayang Allah tidak serupa persis dengan kasih sayang makhluk.
v  Makna Ayat keempat
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Artinya: “Yang Menguasai pada hari pembalasan.”
Maalik adalah zat yang memiliki kekuasaan atau penguasa. Penguasa itu berhak untuk memerintah dan melarang orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya. Dia juga yang berhak untuk mengganjar pahala dan menjatuhkan hukuman kepada mereka. Dialah yang berkuasa untuk mengatur segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya menurut kehendaknya sendiri. Bagian awal ayat ini boleh dibaca Maalik (dengan memanjangkan mim) atau Malik (dengan memendekkan mim). Maalik maknanya penguasa atau pemilik. Sedangkan Malik maknanya raja.
Yaumid diin adalah hari kiamat. Disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itu seluruh umat manusia akan menerima balasan amal baik maupun buruk yang mereka kerjakan sewaktu di dunia. Pada hari itulah tampak dengan sangat jelas bagi manusia kemahakuasaan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya. Pada saat itu akan tampak sekali kesempurnaan dari sifat adil dan hikmah yang dimiliki Allah. Pada saat itu seluruh raja dan penguasa yang dahulunya berkuasa di alam dunia sudah turun dari jabatannya. Hanya tinggal Allah sajalah yang berkuasa. Pada saat itu semuanya setara, baik rakyat maupun rajanya, budak maupun orang merdeka. Mereka semua tunduk di bawah kemuliaan dan kebesaran-Nya. Mereka semua menantikan pembalasan yang akan diberikan oleh-Nya. Mereka sangat mengharapkan pahala kebaikan dari-Nya. Dan mereka sungguh sangat khawatir terhadap siksa dan hukuman yang akan dijatuhkan oleh-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat ini hari pembalasan itu disebutkan secara khusus. Allah adalah penguasa hari pembalasan. Meskipun sebenarnya Allah jugalah penguasa atas seluruh hari yang ada. Allah tidak hanya berkuasa atas hari kiamat atau hari pembalasan saja. [17]
v  Makna Ayat Kelima
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya: “Hanya kepada-Mu lah Kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah Kami meminta pertolongan.”
Maknanya: “Kami hanya menujukan ibadah dan isti’anah (permintaan tolong) kepada-Mu.” Di dalam ayat ini objek kalimat yaitu Iyyaaka diletakkan di depan. Padahal asalnya adalah na’buduka yang artinya Kami menyembah-Mu. Dengan mendahulukan objek kalimat yang seharusnya di belakang menunjukkan adanya pembatasan dan pengkhususan. Artinya ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Tidak boleh menujukan ibadah kepada selain-Nya. Sehingga makna dari ayat ini adalah, ‘Kami menyembah-Mu dan kami tidak menyembah selain-Mu. Kami meminta tolong kepada-Mu dan kami tidak meminta tolong kepada selain-Mu.[18]
Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Ibadah bisa berupa perkataan maupun perbuatan. Ibadah itu ada yang tampak dan ada juga yang tersembunyi.  Kecintaan dan ridha Allah terhadap sesuatu bisa dilihat dari perintah dan larangan-Nya. Apabila Allah memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu dicintai dan diridai-Nya. Dan sebaliknya, apabila Allah melarang sesuatu maka itu berarti Allah tidak cinta dan tidak ridha kepadanya. Dengan demikian ibadah itu luas cakupannya. Di antara bentuk ibadah adalah do’a, berkurban, bersedekah, meminta pertolongan atau perlindungan, dan lain sebagainya. Dari pengertian ini maka isti’anah atau meminta pertolongan juga termasuk cakupan dari istilah ibadah. Lalu apakah alasan atau hikmah di balik penyebutan kata isti’anah sesudah disebutkannya kata ibadah di dalam ayat ini?
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahulah berkata, “Didahulukannya ibadah sebelum isti’anah ini termasuk metode penyebutan sesuatu yang lebih umum sebelum sesuatu yang lebih khusus. Dan juga dalam rangka lebih mengutamakan hak Allah ta’ala di atas hak hamba-Nya….”
Beliau pun berkata, “Mewujudkan ibadah dan isti’anah kepada Allah dengan benar itu merupakan sarana yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan yang abadi. Dia adalah sarana menuju keselamatan dari segala bentuk kejelekan. Sehingga tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan perantara kedua hal ini. Dan ibadah hanya dianggap benar apabila bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditujukan hanya untuk mengharapkan wajah Allah (ikhlas). Dengan dua perkara inilah sesuatu bisa dinamakan ibadah. Sedangkan penyebutan kata isti’anah setelah kata ibadah padahal isti’anah itu juga bagian dari ibadah maka sebabnya adalah karena hamba begitu membutuhkan pertolongan dari Allah ta’ala di dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Seandainya dia tidak mendapatkan pertolongan dari Allah maka keinginannya untuk melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang itu tentu tidak akan bisa tercapai.” [19]
v  Makna Ayat Keenam
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
Artinya: “Tunjukilah Kami jalan yang lurus.”
Maknanya: “Tunjukilah, bimbinglah dan berikanlah taufik kepada kami untuk meniti shirathal mustaqiim yaitu jalan yang lurus.” Jalan lurus itu adalah jalan yang terang dan jelas serta mengantarkan orang yang berjalan di atasnya untuk sampai kepada Allah dan berhasil menggapai surga-Nya. Hakikat jalan lurus (shirathal mustaqiim) adalah memahami kebenaran dan mengamalkannya. Oleh karena itu ya Allah, tunjukilah kami menuju jalan tersebut dan ketika kami berjalan di atasnya. Yang dimaksud dengan hidayah menuju jalan lurus yaitu hidayah supaya bisa memeluk erat-erat agama Islam dan meninggalkan seluruh agama yang lainnya. Adapun hidayah di atas jalan lurus ialah hidayah untuk bisa memahami dan mengamalkan rincian-rincian ajaran Islam. Dengan begitu do’a ini merupakan salah satu do’a yang paling lengkap dan merangkum berbagai macam kebaikan dan manfaat bagi diri seorang hamba. Oleh sebab itulah setiap insan wajib memanjatkan do’a ini di dalam setiap rakaat shalat yang dilakukannya. Tidak lain dan tidak bukan karena memang hamba begitu membutuhkan do’a ini. [20]
v  Makna Ayat Ketujuh
   غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ
Artinya: “Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka. Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.”
Siapakah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah? Di dalam ayat yang lain disebutkan bahwa mereka ini adalah para Nabi, orang-orang yang shiddiq/jujur dan benar, para pejuang Islam yang mati syahid dan orang-orang salih.[21] Termasuk di dalam cakupan ungkapan ‘orang yang diberi nikmat’ ialah setiap orang yang diberi anugerah keimanan kepada Allah ta’ala, mengenal-Nya dengan baik, mengetahui apa saja yang dicintai-Nya, mengerti apa saja yang dimurkai-Nya, selain itu dia juga mendapatkan taufik untuk melakukan hal-hal yang dicintai tersebut dan meninggalkan hal-hal yang membuat Allah murka. Jalan inilah yang akan mengantarkan hamba menggapai keridhaan Allah ta’ala. Inilah jalan Islam. Islam yang ditegakkan di atas landasan iman, ilmu, amal dan disertai dengan menjauhi perbuatan-perbuatan syirik dan kemaksiatan. Sehingga dengan ayat ini kita kembali tersadar bahwa Islam yang kita peluk selama ini merupakan anugerah nikmat dari Allah ta’ala. Dan untuk bisa menjalani Islam dengan baik maka kita pun sangat membutuhkan sosok teladan yang bisa dijadikan panutan. [22]
Kemudian Orang yang dimurkai adalah orang yang sudah mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengamalkannya. Contohnya adalah kaum Yahudi dan semacamnya. Sedangkan orang yang tersesat adalah orang yang tidak mengamalkan kebenaran gara-gara kebodohan dan kesesatan mereka. Contohnya adalah orang-orang Nasrani dan semacamnya. Sehingga di dalam ayat ini tersimpan motivasi dan dorongan kepada kita supaya menempuh jalan kaum yang shalih. Ayat ini juga memperingatkan kepada kita untuk menjauhi jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat dan menyimpang. [23]

v  Apakah basmalah termasuk bagian dari surat al fatihah ?
Al-Qurtubi menyebutkan bahwa jumlah ayat dalam surat Al-Fatihah sebanyak tujuh ayat, tidak ada perselisihan tentang hal ini, hanya saja para ulama mufassir berpendapat tentang penetapan ayat pertama dengan ayat ketujuh. Para ulama sepakat bahwa “Basmalah” yang tertulis dalam surat an-naml ayat 30 adalah sebagian ayat firman Allah SWT.
Adapun perbedaan pendapat tentang kedudukan “Basmalah” dalam surat Al-Fatihah dikemukkan para Ahli madzhab sebagai berikut :
1. Madzhab Syafi’i
Menurut madzhab syafi’i Basmalah itu termasuk salah satu ayat dari surat Fatihah dimana dalil yang di kemukakan oleh madzhab ini, adalah :
a)     Hadist Abu hurairah R.A.    
إِذَا قَرَأْتُمِ: الْحَمْدُ لله فَاقْرَءُوا: بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، إِنَّهَا أُمُّ الْقُرْآنِ، وَأُمُّ الْكِتَابِ، وَالسَّبْعُ الْمَثَانِي، وَبِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِحْدَاهَا
“Jika kalian membaca: (الحمد لله) (yaitu surat Al-Fatihah), maka bacalah: (بسم الله الرحمن الرحيم). Dia adalah ummul qur’an, ummul kitab dan sab’ul matsaniy. Sedangkan (بسم الله الرحمن الرحيم) adalah salah satu ayatnya.” (HR. Ad-Daruqutni)
b)     Hadist Ibnu Abbas; “Susunggguhnya Rosulullah SAW. Memebuka shalatnya dengan bismillahirahmanirsahim. (HR. Tarbani).
c)      Hadist Anas R.A ; Anas ditanya tentang bacaan Rosulullah SAW. maka anas menjawab : “bacaan Nabi SAW. Itu panjang. Kemudian beliau membaca Bismillahirahmanirahim, Alhamdulillahirabil a’alamin, Arahmanirahim, maliki yaumiddin” (HR. Bukhari).
d)     Penulisan Basmalah pada awal surat Al-Fatihah dalam mushaf  menunjukan bahwa “Basmalah” itu merupakan salah satu ayat surat Al-Fatihah.

2. Madzhab Maliki
Menurut mazhab maliki Basmalah itu tidak termasuk atau bukan salah satu ayat dalam surat AlFatihah dan bukan pula merupakan awal ayat dari tiapa-tiapa surat dalam Al Qur’an kecuali Basmalah dalan surat An-Naml:30. Berpendapat ini berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut.
a)     Siti Aisyah berkata , Rosulullah SAW, mengawali shalatnya dengan takbir dan baccaan Alhamdulillah hirobilalamin. (HR. Bukhori dan muslim)
b)     Hadits anas R.A:
عَنْ أَنَسٍ كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“ Rosulullah SAW, mengawali shalat di belakangnya, abu bakar, Umar, Ustman, mereka membaca Alhamdulillahirobilalamin”.

3. Madzhab abu Hanifah
Menurut mazhab abu hanifah Basmalah salah satu ayat dalam Al Qur’an diturunkan untuk pembatas (sebagai pemisah)antara satu surat dengan surat yang lainya. Basmalah Bukalah salah satu ayat dari Al-Fatihah. Mazhab ini berdasarkan pada dalil sebagai berikut.
a)     Penulisan dalam mushaf menunjukan bahwa Basmalah merupakan bagian dari ayat-ayat dalam Al-Qur’an, tetapi bukan bagian ayat pada setiap surat. Disamping itu hadist-hadist yang membolehkan jahr (nyaring) dalam waktu shalat yang menunjukan bahawa Basmalah itu tidak termasuk surat dalam surat Al-Fatihah
b)     Hadits yang berbunyi;

كان النبي صلى الله عليه وسلم لا يعرف فصل السورة حتى تنزل عليه  بسم اللّه الرحمن الرحيم


“Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah mengetahui batasan/pembagian surat , sampai turunlah kepadanya: Bismillahirrahmanirrahim.” [24]
c)      Dan dikuatkan pula oleh sebagian riwayat bahwa para sahabat berkata; Kami tidak mengetahui batas akhir surat sampai turun Bismillahirohmanirahim” (dikeluarkan oleh abu daud)

8.  Pelajaran Yang Dikandung (Al Mustafad Min Al Ayat)
Dalam surat al-Fatihah ini terdapat pelajaran yang sangat agung yaitu uraian tentang:
a)     Tauhid, yang dikandung oleh ayat-ayatnya yang kedua dan ketiga: Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamin. Arrahmaanirrahim.
b)     Kepastian hari kiamat, yang dikandung oleh ayatnya yang keempat: Maliki Yaumiddin.
c)      Ibadah yang seharusnya hanya tertuju kepada Allah dikandung oleh ayat: Iyyaka Na’budu.
d)     Pengakuan tentang kelemahan manusia dan keharusan meminta pertolongan hanya kepada-Nya dalam ayat : Wa Iyaka Nasta’iin, dan Ihdinashiraathal mustaqiim.
e)     Keanekaragaman manusia dalam menghadapi perintah Ilahi : Ada yang menerima, ada yang menolak setelah mengetahui, dan ada juga yang sesat jalan, yaitu yang dikandung dalam ayat terakhir surat Al-Fatihah.
Kelima hal pokok di atas, tauhid, kepastian hari kiamat, dan keikhlasan beribadah adalah dasar-dasar pokok ajaran al-Qur’an. Sedang uraian yang terdapat dalam surah-surah lain tentang alam, manusia, dan sejarah merupakan cara-cara yang ditempuh oleh Al-Qur’an untuk mengantar manusia meraih, menghayati, mengamalkan persoalan-persoalan pokok itu.
9.  Latho’if Al Ayat
1.      Allah memulai firmanNya dengan basmalah, ini memberikan isyarat kepada kita bahwa ketika membaca al qur’an hendaknya dimulai dengan basmalah, begitu pula dalam seluruh aktifitas dan perbuatan kita. Karena dengannya kita meraih pahala dan keberkahan.[25]
2.      Dalam kata “al-hamdu” dengan menggunakan alif lam ( li al istigrok al jins ) mengandung makna yang dalam bahwa tidak ada yang berhak mendapatkan pujian dan sanjungan yang hakiki melainkan Allah Ta’ala. Dan juga mengisyaratkan bahwa pujian itu selalu melekat bagi Allah  selamanya.[26]
3.      Dalam ayat الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ   terkumpul dua nama yang masing masing mempunyai makna, makna ar rahman menunjukan atas sifat yang  senantiasa melekat pada Allah. Sedang makna ar rahiim menunjukan keterkaitan Allah dengan obyek/ al marhuum, yaitu Allah menyayangi hambaNya dengan rahmatNya.
4.      Dalam ayat     إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ  objek kalimat yaitu Iyyaaka diletakkan di depan. Padahal asalnya dalam kaidah nahwu adalah na’buduka yang artinya Kami menyembah-Mu. Dengan mendahulukan objek kalimat yang seharusnya di belakang menunjukkan adanya pembatasan dan pengkhususan. Artinya ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Tidak boleh menujukan ibadah kepada selain-Nya. Sehingga makna dari ayat ini adalah, ‘Kami menyembah-Mu dan kami tidak menyembah selain-Mu. Kami meminta tolong kepada-Mu dan kami tidak meminta tolong kepada selain-Mu.[27]



Daftar pustaka

·         Rowa’I Al Bayaan Tafsir Ayatul Ahkam oleh Muhammad Ali Ash shobuni.
·       Aisiiru at tafasir li kalam al-aliyi al-kabir oleh jabir bin musa bin abdil qodir bin abi bakar al-jazairi, (MAKTABAH SYAMILAH)
·  Syarhu Ma’aani Suratil Fatihah, Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alus Syaikh hafizhahulla.(MAKTABAH SYAMILAH)
·         Asbaabu An-nuzuul, oleh syaikh abi hasan ali bin ahmad al-awahidi an-naisaburi, al maktabah at taufiqiyah; 2003
·         Tafsir al-Qur’an al-’Azhim oleh Ibnu Katsir cet. Dar Thaibah.
· Taisir Lathifil Mannaan Fi khulasoti tafsir al qur’an oleh Muhammad bin nashir as sa’di. (MAKTABAH SYAMILAH)






[2] Sanadnya Dho’if (karena ada yang terputus)
[3] Sanadnya Dho’if jidda
[4] lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/101] cet. Dar Thaibah dan Tafsir al-Qurthubi [1/177]
[5] HR. Bukhari dalam Kitab Fadha’il al-Qur’an [5006]
[6] HR an-Nasa'i dalam as-Sunan al-Kubra, dalam Kitabu Fadhaa'ilil Qur'an, No. 8011, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dalam Kitabur Raqaaq, No. 774, al-Hakim dalam al-Mustadrak, dalam Kitabu Fadhaa'ilil Qur'an dan al-Baihaqi dalam as-Sunanush Shaghiir.
[7] (HR. Bukhari dalam Kitab al-Adzan [756] dan Muslim dalam Kitab ash-Sholah [394]). Dalam riwayat Muslim juga diriwayatkan dengan lafal, “Tidak sah sholat orang yang tidak membaca Ummul Qur’an.”
[8] (HR. Bukhari dalam Kitab Fadha’il al-Qur’an [5007] dan Muslim dalam Kitab as-Salam [2201])
[9] HR. Bukhari dalam Kitab Tafsir al-Qur’an [4704]) (lihat juga Tafsir al-Imam asy-Syafi’i [1/188-189,192] cet. Dar at-Tadmuriyah, Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [4/382] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah) 
[10] Penamaan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan at-Tirmidzi -dan dia menshahihkannya- dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,  "Alhamdulillah adalah Ummul Qur'an, Ummul Kitab, dan as-Sab'ul Matsaani."
[11] lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/101] cet. Dar Thaibah
[12]  Lihat Tafsir Rowa’I Al Bayaan Tafsir Ayatul Ahkam oleh Muhammad Ali Ash shobuni
[13] Syarhu Ma’aani Suratil Fatihah, Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alus Syaikh hafizhahullah.
[14] lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 19.
[15] Lihat Tafsir Rowa’I Al Bayaan Tafsir Ayatul Ahkam oleh Muhammad Ali Ash shobuni
[16] lihat Taisir Lathiifil Mannaan, hal. 20.
[17] lihat Taisir Karimir Rahman, hal. 39.
[18] Lihat Rowa’I Al Bayaan Tafsir Ayatul Ahkam oleh Muhammad Ali Ash shobuni
[19] Taisir Karimir Rahman, hal. 39.
[20] lihat Taisir Karimir Rahman, hal. 39.
[21] Lihat Al qur’an surat An Nissa’ ayat; 69
[22] lihat Aisarut Tafaasir, hal. 12.
[23] lihat Aisarut Tafaasir, hal. 13 dan Taisir Karimir Rahman hal. 39.
[24] (HR.Abu Daud No. 788, Al Baihaqi dalam As Sunannya No. 2206. Imam Ibnu Katsir mangatakan sanadnya shahih. Lihat Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/116. Dar Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’. Syaikh Al Albani juga menyatakan shahih dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 788)
[25]  Rasulullah bersabda;      كُلُّ كَلَامٍ أَوْ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُفْتَحُ بِذِكْرِ اللهِ فَهُوَ أَبْتَرُ - أَوْ قَالَ : أَقْطَعُ
 “Setiap hal yang memiliki nilai, tetapi tidak diawali dengan basmalah maka akan terputus berkahnya”
[26] Lihat Rowa’I Al Bayaan Tafsir Ayatul Ahkam oleh Muhammad Ali Ash shobuni
[27] Lihat Rowa’I Al Bayaan Tafsir Ayatul Ahkam oleh Muhammad Ali Ash shobuni

1 komentar: